RSS

Kemana Pendidikan Harus Melangkah?

14 Jul
Kemana Pendidikan Harus Melangkah?

“pendidikan yang terbaik untuk yang terbaik adalah pendidikan yang terbaik untuk semua” (Mortimer Adler)

Ada banyak hal yang dapat berlangsung dalam proses pendidikan. Oleh karenanya, pertanyaan pertama yang paling mendesak sebenarnya adalah masalah apa yang harus diajarkan kepada murid di semua tingkat pendidikan? Isi kurikulum jelas merupakan salah satu hal mendasar yang harus dibicarakan di sini. Perlu diklarifikasi terlebih dahulu, bahwa dalam hal ini, pendidikan dan sekolah secara tegas harus dibedakan. Meskipun pendidikan dapat berlangsung di sekolah, namun harus diakui pula bahwa proses pendidikan juga dapat terjadi di tempat lain, seperti halnya di rumah, di perpustakaan, di museum, di tempat ibadah, bahkan di tempat hiburan malam, atau di komunitas-komunitas soliter sekalipun. Dengan kata lain, pendidikan dapat pula bersifat nonformal. tidak mengenal batas tempat dan usia. Sedangkan sekolah lebih merupakan proses pendidikan yang bersifat formal dan ada sejumlah aturan baku yang harus ditaati.

Perlu dinyatakan pula di sini, bahwa dalam proses pengembangan kurikulum di tengah banyaknya tawaran gagasan yang datang dari berbagai sumber, sejumlah keputusan sulit seringkali haruslah tetap dibuat. Isu-isu seperti urutan topik materi yang dipilih, waktu yang akan dialokasikan untuk setiap topiknya, jenis praktikum atau proyek yang sesuai untuk topik tertentu, dan semua hal yang dapat dianggap sebagai masalah teknis harus diselesaikan secara baik dan bijak oleh para pendidik. Hal yang tidak boleh diabaikan bahkan harus dilakukan dalam pengambilan keputusan tersebut adalah adanya konsultasi antar bidang. Bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan sendirian oleh pendidik, tapi juga perlu adanya diskusi panjang lintas ilmu dan melibatkan para ahli yang memiliki kedalaman pengalaman dengan kelompok usia target belajar atau oleh para ahli dalam psikologi pembelajaran dan sejenisnya.

Masalah yang lebih dalam, yakni perihal validitas dari pembenaran yang diberikan untuk mata pelajaran atau topik tertentu yang dimasukkan sebagai bahan ajar dari lembaga pendidikan formal (Misalnya, mengapa pokok bahasan tentang evolusi bumi perlu disertakan sebagai topik dalam pelajaran geografi di sekolah? Mengapa pendidikan karakter menjadi bagian penting kurikulum sekolah? Dasar apa yang digunakan sebagai pembenaran yang meyakinkan bahwa mata pelajaran entrepreneurship perlu diajarkan di sekolah? Mengapa bullying di sekolah perlu mendapatkan perhatian ekstra para guru, dan sebagainya?).

Rupanya, banyak pemikir yang sampai kini tidak melepaskan diri dari pemikiran Plato untuk mencari pendasaran dalam membangun isi kurikulum. Baik secara eksplisit maupun implisit, teori mereka setidaknya dibangun dan berpijak dari tiga persoalan utama.

Pertama, apa tujuan utama dan/atau fungsi pendidikan (tujuan dan fungsi tidak selalu sama). Pendidikan haruslah bertujuan untuk membekali individu untuk mengejar kehidupan yang baik. Misalnya, jika kita berpikir bahwa manusia disebut berkembang jika memiliki kapasitas untuk bertindak rasional dan mandiri. Maka langkah-langkah yang harus dilakukan bahwa lembaga pendidikan harus menyusun kurikulum pendidikannya yang mengarahkan pada tujuan tersebut, untuk mempersiapkan atau setidaknya membantu mempersiapkan individu siswa didiknya otonom. Satu baris argumen berpengaruh dikembangkan oleh Paul Hirst, bahwa pengetahuan sangat penting untuk mengembangkan konsepsi tentang kehidupan yang baik, dan untuk mengejarnya. (Hirst, 1965; bag.11.)

Kedua, apakah dapat dibenarkan kurikulum pendidikan dijadikan sebagai kendaraan politik untuk memenuhi kepentingan penguasa atau kelas yang berkuasa, dan apakah dibenarkan dalam merancang kurikulum dibubuhi maksud-maksud tersembunyi sehingga dapat difungsikan sebagai media kontrol atau rekayasa sosial? Pada akhir abad kedua puluh ada “diskusi besar” mengenai berbagai teori kurikulum yang ada, terutama dari perspektif Marxis dan postmodern, yang menawarkan analisis serius bahwa dalam banyak sistem pendidikan, termasuk di negara-negara demokrasi Barat, kurikulum seringkali menjadi cermin sekaligus sarana untuk melayani kepentingan kelas penguasa. Sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan yang sekarang masuk ke sekolah merupakan hasil “seleksi alam” dari pengetahuan sosial dan prinsip-prinsip yang mencerminkan perspektif dan keyakinan kolektif sosial kita. Demikian halnya produk-produk yang menjadi komoditas publik dan ekonomi pun telah berulang kali disaring melalui komitmen ideologis dan ekonomi. Sehingga, nilai-nilai sosial dan ekonomi, sebenarnya merupakan produk dari sebuah “grand design” pihak yang memiliki kepentingan yang telah dimasukkan sebagai bentuk pengetahuan resmi di sekolah-sekolah dan dilestarikan melalui kurikulum (bdk. Apple, 1990, 8-9)

Ketiga, haruskah program pendidikan di tingkat dasar dan menengah terdiri dari sejumlah penawaran yang berbeda, sehingga masing-masing siswa dapat mengikuti kurikulum yang sesuai dengan kepentingan dan kemampuan serta minat belajar yang berbeda-beda? Atau haruskah setiap siswa mengikuti satu kurikulum yang sama? perlu dicatat, bahwa dalam kasus masa lalu kurikulum hampir selalu didasarkan pada kebutuhan atau kepentingan untuk peran sosial elit. Pertanyaan tersebut, pada akhir abad kedua puluh, dijawab Mortimer Adler (yang boleh dibilang mengikuti pemikiran Plato dalam Republic), dengan mengatakan bahwa, “pendidikan yang terbaik untuk yang terbaik adalah pendidikan yang terbaik untuk semua”.

Jika ditarik benang merah dari pemikiran tersebut, maka dapat dikatakan bahwa pendidikan haruslah memiliki tujuan mulia, mengarah pada semua hal yang baik, sesuai dengan kodrat dan situasi riil manusia serta kebutuhan hidupnya, bukan menjadi budak penguasa yang memiliki kepentingan sempit, dan mengarah pada kebaikan hidup bersama. Sehingga skema dasar pendidikan Plato dapat dipahami sebagai usaha yang mengarahkan manusia pada tujuan-tujuan transendental, yakni tentang mendidik dan mengorganisasi masyarakat yang akhirnya mengarahkan pada tujuan akhir kehidupan.

Namun demikian, apakah kita cukup berhenti pada konsep demikian? Tentu saja tidak, meskipun pandangan Plato itu baik, tetapi proses pendidikan yang disodorkannya masih cenderung berbicara tentang cara belajar dengan “bahasa pasif”. Artinya, murid masih sebatas diajak untuk “melihat” belum sampai pada “berbuat”.

Pengetahuan lahir dari refleksi atas tindakan, dan nilai dari suatu hal yang dinilai sebagai pengetahuan yang berkorelasi dengan keberhasilan pemecahan masalah dari tindakan yang dilakukan di bawah tuntunan pengetahuan tersebut. Dengan demikian, dalam proses belajar untuk memperoleh pengetahuan itu tidak bisa bersifat pasif, tetapi sebagai tindakan aktif. Proses mencari pengetahuan bukanlah seperti “menonton pengetahuan” dan mengagumi segala kehebatannya seperti halnya menonton film di bioskop. Jika dikaitkan dengan analogi Plato, peserta didik tidak lagi diperlakukan seperti para tahanan yang sekedar diminta melihat bayangan pada dinding gua, tapi pendidikan haruslah mencoba mengalihkan pandangan mereka pada cahaya yang akhirnya menuntun mereka keluar gua untuk memandang cakrawala yang lebih luas.(Krisnu, Staff Pendidikan)

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 14, 2012 in Uncategorized

 

One response to “Kemana Pendidikan Harus Melangkah?

  1. yayasanpendidikanpusatkarmel

    Juli 14, 2012 at 6:01 pm

    angin segar….

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: